Ketika Startup Pertanian Mengklaim Menghilangkan Tengkulak, Tapi Menciptakan Tengkulak Baru

Dalam beberapa tahun terakhir, banyak inisiatif pertanian digital muncul dengan narasi yang terdengar menjanjikan: menghilangkan tengkulak, memperpendek rantai distribusi, dan mempertemukan petani langsung dengan konsumen. Di atas kertas, gagasan ini terlihat sebagai solusi atas persoalan klasik pemasaran hasil panen.

Namun di lapangan, tidak sedikit upaya tersebut justru menciptakan ketergantungan baru. Tengkulak lama memang tidak selalu terlihat, tetapi fungsinya muncul kembali dalam bentuk lain, sering kali dengan kontrol yang lebih terpusat dan transparansi yang justru berkurang bagi petani.

Artikel ini tidak membahas aktor tertentu, melainkan membedah fungsi tengkulak dalam sistem pemasaran, serta mengapa upaya menghilangkannya sering berakhir dengan menciptakan tengkulak versi baru.

Tengkulak Adalah Fungsi, Bukan Sekadar Aktor

Kesalahan paling umum dalam membahas pemasaran hasil panen adalah menyederhanakan tengkulak sebagai individu atau kelompok tertentu. Padahal dalam praktiknya, tengkulak adalah fungsi ekonomi yang mencakup:

  • penyedia likuiditas cepat
  • penyerapan risiko harga
  • pengumpulan volume
  • pengelolaan logistik

Selama fungsi-fungsi ini masih dibutuhkan, tengkulak dalam bentuk apa pun akan tetap ada. Menghilangkan aktornya tidak otomatis menghilangkan fungsinya.

Inilah mengapa upaya “menghapus tengkulak” sering kali gagal memahami masalah yang sebenarnya.

Memperpendek Rantai Distribusi Tidak Sama dengan Menghilangkan Ketergantungan

Banyak sistem pemasaran modern memang memperpendek rantai distribusi secara visual. Jumlah perantara berkurang, proses terlihat lebih ringkas, dan transaksi terasa lebih langsung.

Namun yang sering luput diperhatikan adalah pergeseran pusat kendali. Ketika satu platform atau lembaga menjadi:

  • penentu harga
  • pengatur volume
  • pemegang akses pasar

maka ketergantungan tidak hilang, hanya berpindah. Dalam kondisi ini, posisi tawar petani tidak selalu membaik, bahkan bisa semakin lemah karena pilihan alternatif menyempit.

Hal ini berkaitan erat dengan prinsip pemasaran hasil panen tidak dimulai setelah panen, bahwa keputusan pasar harus dibaca sebagai bagian dari sistem, bukan sekadar kanal.

Dari Perantara Fisik ke Perantara Sistem

Perbedaan utama antara tengkulak tradisional dan tengkulak versi baru bukan pada fungsinya, melainkan pada bentuk kontrolnya. Pada sistem modern, kontrol sering terjadi melalui:

  • standar sepihak
  • mekanisme penilaian internal
  • ketergantungan data dan akses

Petani mungkin tidak lagi berhadapan langsung dengan individu, tetapi dengan sistem yang aturannya sulit dinegosiasikan. Dalam kondisi tertentu, sistem ini bahkan lebih kaku dibanding pola tradisional.

Janji Harga Lebih Baik Tidak Selalu Terpenuhi

Narasi utama yang sering dibawa adalah harga yang lebih adil. Namun harga tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu berkaitan dengan:

  • risiko yang ditanggung
  • kecepatan pembayaran
  • biaya logistik
  • stabilitas serapan

Ketika sebuah sistem mengambil alih risiko-risiko tersebut, wajar jika ia juga mengambil porsi nilai. Masalah muncul ketika risiko tetap berada di pihak petani, sementara kontrol dan margin berpindah ke perantara baru.

Kondisi ini sering berujung pada kekecewaan yang terlihat “tiba-tiba”, padahal merupakan konsekuensi struktural.

Mengapa Petani Tetap Bertahan dalam Sistem Seperti Ini

Pertanyaan pentingnya bukan mengapa sistem ini muncul, tetapi mengapa petani tetap bertahan. Jawabannya sering sederhana:

  • akses pasar terbatas
  • kebutuhan likuiditas mendesak
  • tidak ada alternatif yang siap

Dalam kondisi ini, pilihan bukan antara sistem baik dan buruk, tetapi antara bertahan atau tidak terserap pasar sama sekali. Situasi ini menjelaskan mengapa masalah pemasaran jarang bisa diselesaikan hanya dengan mengganti kanal.

Hal ini selaras dengan pembahasan masalah utama pemasaran hasil panen bukan kanal, tapi posisi tawar.

Modern Tidak Selalu Lebih Aman

Salah satu ilusi terbesar adalah menganggap sistem modern selalu lebih aman dan adil. Padahal, sistem apa pun—tradisional atau modern—akan menghasilkan tekanan jika:

  • posisi tawar timpang
  • ketergantungan tinggi
  • fleksibilitas rendah

Modernisasi tanpa perbaikan struktur hanya memindahkan masalah ke bentuk yang lebih rapi dan sulit dibaca.

Pelajaran Penting bagi Pelaku Usaha Pertanian

Bagi pelaku usaha, pelajaran terpenting bukan memilih antara tradisional atau modern, melainkan memahami:

  • siapa memegang kendali
  • siapa menanggung risiko
  • seberapa fleksibel sistem terhadap perubahan

Tanpa pemahaman ini, upaya “memperbaiki pemasaran” justru bisa memperbesar risiko, terutama ketika sistem produksi sudah terlanjur terkunci. Pola ini sering beririsan dengan salah skala, salah sistem, salah harapan.

Penutup

Menghilangkan tengkulak sebagai aktor tidak berarti menghilangkan fungsi tengkulak dalam sistem. Selama pemasaran hasil panen membutuhkan likuiditas, penyerapan risiko, dan pengelolaan volume, fungsi tersebut akan selalu hadir—dalam bentuk lama atau baru.

Masalah utama bukan pada siapa perantaranya, melainkan pada bagaimana posisi tawar dibangun dan risiko dibagi. Tanpa perbaikan di level ini, pemasaran modern hanya akan menciptakan tengkulak versi baru dengan wajah yang berbeda.

Artikel selanjutnya dalam klaster ini akan membahas mengapa pasar tradisional justru masih bertahan karena sering kali lebih masuk akal secara sistem.

Artikel Lainnya

Petani terlihat ragu saat mengambil keputusan usaha karena perhitungan biaya yang menyesatkan

HPP yang Terlihat Benar tapi Menyesatkan dalam Pengambilan Keputusan

HPP (Harga Pokok Produksi) sering dianggap objektif karena berbentuk angka. Ketika perhitungan sudah dilakukan dengan rapi dan hasilnya terlihat masuk akal, banyak pelaku usaha...
Bisnis Pertanian
2
minutes
Perbedaan kondisi usaha pertanian skala kecil, produksi, dan sistem dalam perhitungan biaya

Perbedaan HPP Skala Kecil, Produksi, dan Sistem Pertanian

HPP (Harga Pokok Produksi) sering dibicarakan seolah hanya ada satu versi. Selama angka HPP sudah dihitung dan terlihat masuk akal, banyak pelaku usaha pertanian...
Bisnis Pertanian
3
minutes
Petani menghitung biaya produksi dan membandingkan rencana usaha dengan kondisi lapangan

HPP Versi Proposal vs HPP Versi Lapangan: Kenapa Angkanya Hampir Selalu...

HPP (Harga Pokok Produksi) sering pertama kali dihitung saat usaha pertanian masih berada di tahap perencanaan. Angka ini biasanya muncul dalam proposal, rencana usaha,...
Bisnis Pertanian
3
minutes
Ilustrasi kesalahan umum dalam menghitung HPP produk pertanian

Kesalahan Paling Umum Saat Menghitung HPP Produk Pertanian

HPP (Harga Pokok Produksi) sering dianggap sebagai hasil akhir perhitungan biaya. Selama angkanya terlihat rapi dan berada di bawah harga jual, banyak pelaku usaha...
Bisnis Pertanian
3
minutes
spot_imgspot_img