HPP (Harga Pokok Produksi) sering pertama kali dihitung saat usaha pertanian masih berada di tahap perencanaan. Angka ini biasanya muncul dalam proposal, rencana usaha, atau simulasi awal sebelum produksi benar-benar berjalan.
Masalahnya, ketika produksi sudah berjalan di lapangan, angka HPP hampir selalu berbeda dari yang ada di proposal. Perbedaan ini sering dianggap sebagai kesalahan perhitungan awal, padahal dalam banyak kasus, perbedaan tersebut justru menunjukkan bahwa fungsi HPP di proposal dan di lapangan memang tidak sama.
Fungsi HPP dalam Proposal Usaha
Dalam proposal, HPP berperan sebagai alat asumsi. Ia digunakan untuk:
- menguji kelayakan awal usaha,
- membandingkan beberapa opsi produksi,
- dan melihat apakah secara kasar margin terlihat masuk akal.
HPP versi proposal biasanya dibangun dari kondisi yang relatif ideal:
- sistem diasumsikan berjalan lancar,
- hasil panen mendekati optimal,
- biaya dianggap stabil dan terkendali.
Pada tahap ini, HPP belum membaca sistem yang nyata, melainkan mewakili harapan terhadap sistem yang akan dibangun.
Realitas HPP di Lapangan
Begitu usaha dijalankan, sistem mulai menunjukkan karakter aslinya. Di lapangan, HPP mulai dipengaruhi oleh:
- variasi hasil panen,
- biaya yang sebelumnya tidak diperhitungkan,
- waktu dan keterlibatan pengelola yang lebih besar,
- serta penyesuaian sistem yang tidak tercantum di proposal.
Di titik ini, HPP tidak lagi berfungsi sebagai asumsi, melainkan sebagai cerminan dari sistem yang benar-benar bekerja. Inilah alasan utama mengapa HPP versi lapangan hampir selalu bergerak dari angka awal di proposal.
Perbedaan ini berkaitan erat dengan elemen biaya yang sering tidak masuk dalam perhitungan awal, sebagaimana dibahas dalam artikel Elemen Biaya dalam HPP Produk Pertanian yang Sering Diabaikan
Kesalahan Umum: Menganggap HPP Proposal Harus “Tercapai”
Salah satu kesalahan paling berbahaya adalah menjadikan HPP versi proposal sebagai target yang harus dipertahankan. Ketika biaya mulai naik atau hasil tidak sesuai rencana, sistem dipaksa menyesuaikan:
- margin ditekan,
- kualitas dikompromikan,
- atau risiko ditunda ke siklus berikutnya.
Pendekatan ini sering membuat usaha terlihat berjalan di awal, tetapi rapuh dalam jangka menengah. Kesalahan serupa juga muncul saat HPP diperlakukan sebagai angka tetap, bukan alat baca yang dinamis, sebagaimana dibahas dalam Kesalahan Paling Umum Saat Menghitung HPP Produk Pertanian
Ilustrasi: Angka Sama, Fungsi Berbeda
Dalam proposal:
HPP dihitung sebesar Rp6.500 per kg.
Angka ini digunakan untuk menilai apakah harga pasar Rp9.000 per kg terlihat layak.
Di lapangan:
Setelah beberapa siklus produksi, muncul biaya tambahan dan variasi hasil.
HPP riil bergerak ke kisaran Rp8.000–Rp8.500 per kg.
Masalahnya bukan pada naiknya HPP, tetapi pada cara membaca perbedaan tersebut. Jika HPP proposal diperlakukan sebagai angka mutlak, kenaikan HPP lapangan dianggap kegagalan. Padahal, kenaikan ini sering kali merupakan sinyal bahwa sistem mulai memperlihatkan biaya aslinya.
Bagaimana Seharusnya Membaca Dua Jenis HPP Ini
HPP versi proposal seharusnya digunakan sebagai:
- alat eksplorasi,
- bahan diskusi awal,
- dan titik mulai membaca risiko.
HPP versi lapangan seharusnya digunakan sebagai:
- alat evaluasi sistem,
- dasar penyesuaian keputusan,
- dan indikator kesehatan usaha.
Keduanya tidak untuk dibandingkan secara kaku, melainkan untuk dibaca sebagai satu proses yang berkesinambungan. Ketika HPP lapangan menjauh dari asumsi awal, yang perlu dilakukan bukan mempertahankan angka lama, tetapi memahami perubahan sistem yang menyebabkannya.
Batasan dan Risiko yang Perlu Disadari
- Mengunci harga berdasarkan HPP proposal berisiko menekan sistem.
- Mengabaikan perbedaan HPP lapangan membuat usaha sulit beradaptasi.
- Menilai usaha “gagal” hanya karena HPP naik sering kali keliru.
HPP bukan alat pembenar keputusan lama, tetapi alat untuk memperbaiki keputusan ke depan.
Penutup
Perbedaan antara HPP versi proposal dan HPP versi lapangan hampir selalu terjadi, dan itu wajar. Yang berbahaya bukan perbedaannya, melainkan ketika perbedaan tersebut tidak dipahami.
Dengan membaca HPP sesuai konteksnya—sebagai asumsi di tahap perencanaan dan sebagai evaluasi di tahap produksi—pelaku usaha pertanian dapat mengambil keputusan yang lebih realistis, adaptif, dan berkelanjutan. Inilah fungsi HPP yang sesungguhnya: bukan sekadar angka, tetapi alat membaca usaha secara jujur.






